Seperti Inilah Teknologi Pertanian Indoor (Pertanian Dalam Gedung) di Jepang

Teknologi Pertanian Indoor (Pertanian Dalam Gedung) di JepangJepang merupakan daerah sub-tropis yang mengalami empat musim yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Oleh karena itu, pertanian di Jepang hanya dilakukan sekali tanam dalam satu tahun.

Berbeda sekali dengan Indonesia yang beriklim tropis yang sepanjang tahun-nya petani dapat menanam dan memanen hasil pertanian.

Jepang selama ini dikenal sebagai negara pencipta inovasi terutama dalam bidang teknologi, khususnya lagi teknologi pertanian. Salah satu yang cukup unik adalah keberhasilan Jepang menerapkan teknologi pertanian indoor atau pertanian dalam gedung (indoor farming technology).

Pada postingan sebelumnya kita juga pernah mengulas keunikan pertanian Jepang yang lain yakni menanam tanpa tanah yakni dengan teknologi film farming (baca artikelnya berikut > Teknologi Film Farming Asal Jepang : Bertani Tanpa Tanah Dan Sedikit Air).

Terbatasnya lahan pertanian di Jepang memaksa pemerintah dan peneliti di Jepang untuk menemukan berbagai cara agar pertanian mereka dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Baca juga : 3 Tantangan Utama Yang Dihadapi Sektor Pertanian Di Dunia

Sebagaimana pertanian indoor (pertanian dalam gedung) di negara maju seperti Amerika dan Timur Tengah, penerapan pertanian indoor di Jepang menggunakan sistem hidroponik (termasuk aeroponik dan akuaponik).

Baca juga : Mengenal Teknologi Aeroponik di Aerofarms, Perusahaan Pertanian Vertikal Terbesar di Dunia

Hidroponik Dalam Gedung

Hidroponik Jepang ini berbeda dengan hidroponik Indonesia karena Jepang menggunakan berbagai teknologi modern seperti teknologi pencahayaan, temperature, dan suplai air, yang dilakukan secara otomatis.

Pertanian Vertikal dalam gedung (Indoor Farming) di Jepang. Sumber: hortidaily.com

Salah satu perusahaan Jepang yaitu Fujitsu yang terletak di kota Izu, Fukushima mulai menerapkan teknologi budidaya hidroponik di dalam ruangan/gedung dengan susunan rak ke atas (disebut juga vertical farming) agar tidak memerlukan lahan luas.

Ruangan yang digunakan harus khusus ruangan hidroponik yang steril dengan menjaga hama dan suhu lingkungan sekitar.

Pencahayaan dalam ruangan tersebut dibantu oleh Teknologi LED yang menggantikan sinar matahari. Teknologi LED justru lebih unggul daripada penanaman secara konvensional karena tanaman yang dihasilkan akan lebih banyak

Selain teknologi LED, bisa menggunakan Teknologi  High Pressure Sodium Vapor (HPSV). Cara membedakan dengan LED yaitu dari segi warna, warna LED cenderung putih sedangkan HPSV kekuningan.

Pekerja pada pertanian indoor di Jepang bukanlah sembarangan orang  dan harus menggunakan seragam yang telah ditentukan. Pekerja tersebut hanyalah melakukan penyemaian dan pemanenan, sisanya system computer yang telah mengendalikannya.

Pertanian dalam gedung_pertanian vertikal. Sumber: homecrux.com

Proses hidroponik pun sama seperti hidroponik di Indonesia. Langkah awalnya yaitu menyemai degan menggunakan wadah berbahan akrilik yang sudah lubangi dan diberi jarak.

Nah, setiap lubang akan diberi kode atau chip kecil sesuai dengan jenis benihnya. Setiapa kali selesai proses, pekerja harus selalu melakukan pengecekan agar tidak terjadi kesalahan setiap langkah.

Fungsi pemasangan kode untuk menganalisis keadaan benih tersebut. Oleh karena itu, kadar nutrisi yang diberikan sudah diperhitungkan dan sudah terjadwal melalui system computer.

Kemudian benih yang sudah di wadah akan disiram lalu di letakkan pada rak tanaman. Setiap baris rak terdapat lampu LED atau HPSV untuk menyinari benih tersebut. Lampu diberikan perbaris agar setiap benih mendapatkan cahaya yang sama rata.

Dari setiap hasil panen pasti terdapat daun atau hasil yang kurang bagus. Hasil panen yang kurang bagus ini nantinya akan dikirim ke bagian laboratorium pascapanen yang akan diolah kembali.

Hidroponik Dalam Dome

Selain hidroponik di dalam Gedung, Jepang juga melakukan hidroponik di dalam dome. Dome ini berbentuk seperti kubah yang disebut “Grandpa Dome”.

pertanian dalam gedung
Teknologi indoor grandpa dome. Sumber: http://modernagriculture.ca/

Mengapa berbentuk kubah? Agar sinar matahari yang mengenai tanaman sama rata. Sehingga, tidak ada tanaman yang kekurangan sinar matahari.

Dalam Grandpa Dome ini sudah dilengkapi sensor cahaya, kelembaban udara untuk mengatur jumlah yang sesuai untuk tanaman hidroponik. Unsur-unsur lingkungan di dalam dome ini juga lengkap dan dikekola oleh computer.

Tata letak tanamannya yaitu memutar berbentuk lingkaran. Setiap baris tersebut sudah diberi rel dengan kecepatan tertentu untuk membantu proses panen.

Proses penyemaian tidak dilakukan di dalam dome melainkan di ruangan lain yang lebih steril selama 2 hari. Inilah yang membedakan proses penyemaian dengan hidroponik dalam ruangan atau gedung.

pertanian dalam gedung
Sayuran dalam grandpa dome. Sumber: verticalfarm.altervista.org

Proses perpindahan media tanam ke kubah tersebut dilakukan oleh pekerja dengan cara  menuju ke tengah lubang tersebut seperti di gambar melalui tangga. Tujuan tangga terletak di atas agar tidak mengenai sayuran atau buah  yang tumbuh besar.

Kemudian menaruh benih tersebut secara melingkar. Nah, nantinya akan digerakan oleh mesin memutari sambil menuju ke tepi lingkaran paling luas.

Menanam Padi Dalam Gedung

Fakta lain yang lebih menarik tentang pertanian indoor ala Jepang ini adalah disana menanam padi dilakukan di dalam gedung-gedung perkantoran. Khususnya di dalam gedung perkantoran Tokyo, Jepang.

pertanian dalam gedung
Menanam padi dalam gedung di Jepang. Sumber: metropolisjapan.com

Dalam gedung tersebut yaitu pada lobby utama  terdapat sawah dan ladang layaknya seperti sawah pada umumnya. Biasanya, sawah ini ditanami padi atau brokoli.

Di Jepang, teknik penanaman padi baik itu di dalam (indoor farming) atau diluar gedung sebenarnya sama saja, hanya yang jadi pembeda adalah teknologi-nya.

Teknologi yang digunakan sama seperti teknologi hidroponik yaitu pencahayaan (LED), suplai air, temperature, hama dan nutrisi dikontrol oleh system computer.

Memanen padi dalam gedung (indoor farming) di Jepang. Sumber: nomuradesign.sg

System irigasi sawah dalam gedung secara otomatis diatur oleh mesin dan computer. Disana terdapat ahli botani dan para pekerja yang bertugas menjaga tanaman padi ini agar berhasil panen dengan optimal.

Nah sobat tani Indonesia, demikianlah artikel tentang teknologi pertanian indoor (pertanian dalam gedung) di Jepang. Bagaimana menurut anda, menarik bukan?

Yap, banyak hal yang perlu kita pelajari dari pertanian Jepang. Kita sebagai orang Indonesia dapat belajar dari Jepang bahwa pertanian dapat dilakukan dimana saja asalkan ada faktor lingkungan yang terpenuhi.

Kontributor :  Stevani Dinda Aryani (Mahasiswi Pertanian Universitas Padjadjaran/UNPAD)

Editor : TeknologiTani.com

Berapa rating artikel ini ?
Suka Artikel Ini? Share YES !

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *