[Solusi] Pupuk Kimia Langka ? Coba Terapkan Sistem Tanam Berikut Ini !

[Solusi] Pupuk Kimia Langka ? Coba Terapkan Sistem Tanam Berikut Ini ! – Hallo sobat teknologitani.com, akhir-akhir ini banyak sekali petani yang mengeluh tentang sulitnya mendapatkan pupuk kimia khususnya yang bersubsidi. Nah apakah anda salah satunya ?

Walaupun isu kelangkaan pupuk itu sudah berbulan-bulan, menurut informasi, ternyata banyak petani yang belum juga kebagian pupuk subsidi.

Padahal aturan terbaru petani tidak harus pakai kartu tani untuk bisa dapat jatah pupuk subsidi.

Situasi kelangkaan pupuk akhirnya memaksa sebagian besar petani memilih pupuk alternatif yang saat ini banyak sekali beredar di pasaran.

Ada memilih pupuk yang sekilas mirip pupuk phonska misalnya poska, phoska, ponska, ponskah. Namun tetap saja pupuk tersebut bukan buatan PT. Pupuk Indonesia sebagaimana pupuk yang biasa mereka pakai.

Ada juga yang menawarkan pupuk kemasan sebesar kotak balsem yang diklaim setara puluhan ton pupuk kandang (tahu kan yang saya maksut ?).

Karena tidak ada pilihan lain petani akhirnya terpaksa membeli. Walaupun sebenarnya sedikit ragu dengan kualitas pupuk tersebut.

Contohnya pupuk phoska tadi, di kemasan tertulis dengan huruf besar phoska. Sekilas anda pasti mengira pupuk tersebut adalah pupuk phonska yang mengandung unsur hara N, P, K masing-masing 15%.

pupuk phoska

Kenyataannya di label kemasan pupuk tersebut justru mengandung Ca0 MgO. Itukan kandungan dari pupuk dolomit atau kapur pertanian, yang berfungsi untuk menaikkan pH tanah.

Itu hanya salah satu contoh saja. Jika anda kurang cermat, maka bisa saja anda “kecele”. Niatnya sih beli NPK eh malah dapat dolomit…hahaha.

Semoga tidak banyak petani Indonesia yang terkelabuhi/kecele dengan kemasan dan desain yang mirip dengan pupuk phonska asli buatan PT. Pupuk Indonesia.

Terlebih petani juga belum tahu bagaimana kinerja dari pupuk tersebut, bagus atau tidak buat tanaman.

Beda dengan pupuk buatan PT. Pupuk Indonesia yang sudah terbukti bagus untuk tanaman.

Nah sobat, dari uraian di atas kita bisa simpulkan bahwa banyak petani kita itu begitu tergantung dengan pupuk kimia khususnya yang subsidi.

Jika petani mau, sebenarnya petani bisa pakai pupuk non subsidi yang tersedia banyak di berbagai toko pertanian.

Tapi ya gitu, petani mempertimbangan biaya produksi mereka.

Jika mereka memakai pupuk non subsidi biaya produksi untuk membeli pupuk saja bisa naik 2-3 kali-nya.

Sementara harga panen belum bisa dipastikan apakah nanti harganya bagus atau justru anjlok dan murah seperti sekarang ini. Hiks.

Kembali lagi ke soal pupuk kimia, pupuk kimia saat ini seakan menjadi harga mati bagi petani yang akan melakukan kegiatan budidaya atau usahatani.

Selama ini pupuk kimia dianggap sebagai pupuk terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi tanaman.

Keyakinan tersebut parahnya diamini oleh sebagian besar petani kita. Akibatnya mereka seakan tidak punya alternatif lain, misalnya pakai pupuk organik maupun pupuk hayati (mikroba).

Saking fanatiknya dengan pupuk kimia, mereka lebih memilih tidak tanam jika pupuk kimianya tidak ada. Pokoknya mau pupuk itu saja (Urea, NPK Phonska, ZA, SP36).

Kenapa petani tidak mulai menggunakan opsi selain pupuk kimia yang ada saat ini, supaya mereka tidak selalu tergantung dengan pupuk kimia?

Hal tersebut bisa jadi karena petani belum mengetahui bahwa penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati terbukti meningkatkan produksi tanaman.

Selain itu, pupuk organik dan hayati itu bisa dipakai untuk semua jenis komoditas tanaman antara lain tanaman pangan (padi, jagung, kedelai), tanaman hortikultura (cabai, tomat, bawang merah, wortel, kentang dll), tanaman buah (misal kelengkeng, jambu dll) maupun tanaman bunga.

Meski pupuk non kimia, pupuk organik dan hayati itu daya kerjanya jauh lebih lambat dibanding pupuk kimia, tapi dalam jangka panjang ia baik untuk tanah dan ekosistem.

Kesimpulannya, bisa gak sih kita tanam tanpa pupuk kimia samsek (sama sekali) ? Jawabannya sangat bisa, kenapa tidak !

Tentu ini jadi bahasan yang menarik. Seandainya banyak petani yang mau mencoba sistem tanam ini sebagai alternatif solusi.

Ke depan petani tidak perlu khawatir seandainya pupuk kimia langka kembali. Yap, petani tetap masih bisa tanam.

Bagaimana cara/solusi saat pupuk kimia langka?

Caranya cukup mudah. Agar penggunaan pupuk kimia berkurang (khususnya saat kondisi pupuk kimia langka), maka penggunaan pupuk lain yaitu pupuk organik dan hayati perlu ditingkatkan.

Sebenarnya selama ini, banyak juga petani yang sudah menggunakan pupuk organik namun sebagai pupuk dasar.

Sementara untuk pupuk hayati sepertinya hanya petani tertentu saja yang sudah menggunakan.

Jika penggunaan pupuk organik+hayati bisa ditingkatkan maka akan sangat berdampak pada pengurangan pupuk kimia, khususnya lagi yang bersubsidi.

Pengurangan pupuk kimia dapat menghemat biaya produksi sehingga dapat memperbesar marjin keuntungan yang diperoleh, serta dapat mencegah kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menerus.

#a. Penggunaan Pupuk Hayati

Pupuk Hayati buatan Balittanah

Pupuk hayati berasal dari kata “pupuk” dan “hayati” yang artinya hidup. Sebenarnya kurang tepat disebut pupuk karena di dalam pupuk hayati tidak ditemukan beragam jenis unsur seperti N, P, K.

Yang bisa anda temukan dalam pupuk hayati adalah jutaan bahkan milyaran mikroorganisme/mikroba tanah (bakteri, cendawan, mikoriza).

Dilansir dari laman belajartani.com, peran dari mikroba tersebut bermacam-macam, ada yang spesifik (khusus), ada juga yang general atau umum.

  • Mikroba penambat nitrogen (N) : Nitrosomonas, Nitrosococcus, Azospirilium, Azotobacter, Rhizobium
  • Mikroba pelarut fosfat (P) : Azospirilium, Azotobacter, Penicillium, Bacillus, Pseudomonas
  • Mikroba pelarut kalium (K) : pelarut fosfat biasanya juga pelarut kalium
  • Mikroba penambat N, pelarut P, dan penghasil ZPT : Azospirilium, Azotobacter

Masih menurut laman yang sama, dikatakan bahwa mikroba tersebut itu ibarat sebuah pabrik yang memproduksi makanan. Sehingga penggunaan pupuk hayati akan meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah.

Mikroba pada pupuk hayati bekerja dengan cara mengurai bahan organik menjadi unsur hara yang siap diserap oleh akar tanaman.

Hebatnya, pemakaian pupuk hayati terbukti dapat menurunkan penggunaan pupuk kimia sampai 50%, misal dari 300 kg per hektar menjadi 150 kg per hektar saja.

Coba hitung, berapa uang yang bisa dihemat petani jika petani mau menggunakan pupuk hayati. Padahal harga pupuk hayati tidaklah mahal.

Aplikasinya pun termasuk irit, untuk 200 liter air pupuk hayatinya cukup 1 liter saja. Bisa diaplikasikan secara kocor pada pangkal batang tanaman atau zona perakaran, bisa juga secara irigasi tetes.

Selain itu, pupuk hayati pun dapat dikembangkan atau dibuat sendiri oleh para petani. Artikel selanjutnya mungkin bisa kita bahas tips dan cara membuat sendiri pupuk hayati.

#b. Penggunaan Pupuk Organik

Proses pembuatan pupuk organik

Contoh dari pupuk organik yang biasa digunakan petani antara lain pupuk kandang (baik itu dari kotoran sapi, ayam, atau kambing), pupuk kompos, pupuk kascing (pupuk bekas media ternak cacing) dan lain-lain.

Penggunaan pupuk organik bertujuan agar kandungan bahan organik tanah meningkat. Dengan meningkatnya kandungan bahan organik dalam tanah maka mikroba-mikroba pun akan dapat bertahan hidup.

Jadi ada korelasi antara pupuk hayati dan pupuk organik. Pupuk organik menjadi makanan sekaligus tempat hidup bagi mikroba-mikroba yang berasal dari pupuk hayati.

Mikroba tidak akan dapat bertahan hidup dan menjalankan fungsinya apabila kandungan bahan organik dalam tanah rendah.

Nah, saat ini kandungan bahan organik tanah di Indonesia sebagian besar berada pada level yang sangat rendah yaitu 2%.

Dengan kata lain, tanah di Indonesia sebagian besar mengalami penurunan tingkat kesuburan. Dampaknya kebutuhan pupuk kimia per hektar jadi semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Misal kalo dulu tahun 1990-an kebutuhan pupuk petani padi berkisar 200 kg per hektar, maka saat ini butuh 300-400 kg per hektar. Bisa jadi 10 tahun lagi kebutuhan pupuk jadi 500-600 kg per hektar.

Lebih lanjut, akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan (jor-joran), porositas dan daya ikat tanah terhadap air menjadi rendah.

Akibatnya tanah menjadi gersang dan kering. Biota tanah seperti cacing tanah dan mikroba tanah yang membantu tanah tetap subur pun tak akan sanggup bertahan hidup.

Baca juga : Teknologi Mina Padi : Terbukti Tingkatkan Pendapatan Petani

Nah sobat teknologitani.com, itulah ulasan tentang pupuk organik dan pupuk hayati, yang bisa petani gunakan sebagai alternatif solusi di saat pupuk kimia langka (khususnya pupuk subsidi).

Dengan berbagai manfaat dari pupuk organik dan hayati, maka petani tidak perlu ragu menggunakan kedua pupuk tersebut.

Walaupun tidak menghentikan penggunaan pupuk kimia seluruhnya, paling tidak petani bisa menghemat pengeluaran untuk biaya pupuk kimia.

Selain menghemat pengeluaran pupuk kimia, pupuk organik+hayati terbukti bisa meningkatkan produktivitas tanaman.

Yang terakhir, pupuk organik+hayati terbukti aman digunakan. Aman bagi petani, aman bagi konsumen (masyarakat) dan juga aman bagi alam/lingkungan/ekosistem (tanah, dan air).

Nah gimana sobat teknologitani.com, tertarik menggunakan sistem tanam di atas sebagai solusi saat pupuk kimia langka?

Like and Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *