Teknologi Bioplastics : Hasilkan Plastik Ramah Lingkungan

Teknologi Bioplastics (Bioplastik) : Hasilkan Plastics Ramah Lingkungan – Produk plastik merupakan produk yang sangat familiar dengan kehidupan sehari-hari manusia. Kita begitu tergantung dengan produk dari bahan plastik, mulai dari perabot rumah tangga banyak yang dibuat dari plastik.

Berbeda dengan perabot rumah tangga yang dapat dipakai berulang-ulang, ada juga produk plastik yang hanya bisa dipakai sekali saja yaitu plastik kemasan.

Karena sifatnya yang sekali pakai, ringan dan mudah digunakan serta biaya produksinya yang murah, menjadikan plastik sebagai bahan kemasan produk makanan minuman (food and beverage) di seluruh dunia.

Dampaknya seperti yang kita lihat saat ini, bumi dipenuhi dengan sampah plastik. Sampah plastik kini begitu mudahnya ditemui bagian sudut bumi, di laut, di darat, di kota maupun di desa. Diperkirakan ada sekitar 100 juta ton sampah plastik yang mencemari lautan.

Masalah sampah plastik tidak boleh dibiarkan, karena dapat menggangu ekosistem lingkungan. Maka solusinya adalah teknologi bioplastik (bioplastics technology). Yakni plastik yang dihasilkan dari bahan selulosa yang mudah terurai dan ramah lingkungan.

Jika sampah plastik pada umumnya merupakan bahan yang sangat sulit diurai hingga ratusan tahun, maka sampah bioplastik adalah jenis sampah yang mudah terurai dalam hitungan bulan baik secara alami (oleh cuaca, sinar matahari) maupun oleh bantuan mikroba/dekomposer.

Tapi teknologi bioplastik ini apakah sudah dibuat atau masih sekedar wacana saja?

Jawabannya adalah bahwa sudah banyak lembaga di dunia, maupun di indonesia yang meneliti dan mengembangkan bioplastik.

Teknologi Bioplastics
Singkong salah satu bahan bioplastik.

Balitbangtan, telah berhasil membuat bioplastik dari bahan selulosa atau pati singkong. Sementara LIPI membuat bioplastik dari bahan tandan kosong sawit yang juga mengandung lignoselulosa.

Baca juga : Teknologi Biodiesel B100, Masa Depan Energi Indonesia

Di luar negeri sendiri seperti Belanda juga mengembangkan bioplastik dari kulit jeruk. Pada prinsipnya jika memang teknologi bioplastik ini menggunakan bahan selulosa atau nanoselulosa, maka bahan seperti jagung, maupun klobotnya tentu saja dapat digunakan.

Bagaimana caranya mengubah bahan selulosa tadi sehingga menjadi biosplastik?

Skemanya adalah bahan-bahan tadi seperti tandan kosong sawit atau singkong tadi diekstraksi terlebih dahulu, kemudian difermentasi dengan mikroba untuk dikonversi menjadi Asam Laktat.

Terakhir, Asam Laktat dipolimerasi menjadi PLA (Poliasam Laktat) yang dikenal sebagai Polymer Biodegradable (Polimer yang mudah terurai).

Melihat perkembangan teknologi yang semakin berkembang ke depannya, diharapkan produksi bioplastik semakin murah dan mudah dibanding saat ini.

Baca juga : Mengenal Teknologi-teknologi Canggih Di Era Pertanian 4.0

Penemuan bahan Poliasam Laktat akan menggantikan bahan polimer seperti Polyethylene (PE) atau Polypropylene (PP) yang notabene adalah bahan plastik utama saat ini.

Saat ini bioplastik sebenarnya sudah kita temukan di supermarket tertentu. Di beberapa toko bahkan sudah tidak menggunakan tas plastik, namun menggunakan kemasan kertas yang jauh lebih ramah lingkungan.

Suka Artikel Ini? Share YES !

About the Author: AdminTT

Farmer - BlogPreneur - Hiker - Spicy Lover

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *