Teknologi Precision Farming (Pertanian Presisi), Optimalkan Hasil dan Minimalkan Resiko Gagal Panen

Teknologi Precision Farming (Pertanian Presisi), Optimalkan Hasil Dan Minimalkan Resiko Gagal Panen – Istilah precision farming sering saya jumpai saat membaca jurnal-jurnal pertanian negara maju di Eropa maupun Amerika.

Awal-awal saya membacanya seolah konsep teknologi precision farming atau pertanian presisi itu sesuatu yang modern dan canggih. Wow banget.

Namun setelah membacanya dengan lebih teliti, sebetulnya apa yang dikatakan precision farming di luar negeri itu sebenarnya sudah diterapkan oleh petani Indonesia.

Baca juga : Melihat Teknologi Pertanian Indonesia, Sejauh Mana Ia Berkembang..??

Precision farming berasal dari kata precision dan farming. Precision berarti tepat atau akurat, farming berarti pertanian, jadi precision farming berarti bahwa pertanian yang dilakukan secara tepat.

Dalam teknik budidaya pertanian tentu kita tidak asing dengan istilah dosis, baik itu dosis pupuk, pestisida maupun air. Yang berarti bahwa pemberian input produksi tersebut harus berdasarkan dosis rekomendasi, tidak kurang juga tidak over, supaya tanaman bisa tumbuh dan panen optimal.

Kabar baiknya adalah saya pikir bahwa petani di Indonesia ini kebanyakan sudah menjalankan dosis rekomendasi dengan senang hati dan penuh kesadaran. Walaupun terkadang terkendala oleh mahalnya harga dan masalah kelangkaan.

Pada teknologi precision farming, semua hal perlu dihitung secara cermat. Misalnya berapa dosis pupuk yang tepat, berapa dosis pestisida yang efektif, berapa kebutuhan air yang tepat.

pertanian presisi
Praktek pertanian presisi. Lahan dilengkapi pengukur pH dan kelembapan tanah, serta menggunakan sistem irigasi otomatis….

Namun precision farming tidak sesempit itu, segala aspek teknis budidaya atau tahapan budidaya perlu dilakukan secara presisi atau tepat akurat.

Intinya agar secara biaya usahatani bisa efisien, secara produktivitas bisa maksimal. Atau dengan kata lain resiko kegagalan usahatani bisa diminimalisir.

Beberapa contoh praktek pertanian presisi

Pemilihan lokasi tanam

Pemilihan lokasi tanam harus tepat, sesuai zona iklim tanaman. misal tanaman strawberry yang cocok di dataran tinggi sebaiknya tidak diusahatanikan di dataran rendah. Saat pemilihan lokasi carilah lokasi yang tersedia cukup airnya, tidak ternaungi, tidak endemik penyakit serta aman dari pencuri.

Pemilihan benih

Pilihlah benih yang berproduktivitas tinggi, tahan hama penyakit, toleran terhadap cekaman lingkungan, dan tentunya sesuai dengan selera pasar.

Pengaturan sistem tanam/cara tanam

Misal sistem tanam jajar legowo yang menggunakan jarak tanam yang agak lebar. Sistem tanam tersebut terbukti baik untuk meningkatkan produktivitas, mencegah berkembangnya iklim mikro sehingga mencegah berkembanganya hama penyakit.

Contoh lain pemakaian mulsa. Bertujuan agar struktur tanah gembur, kelembapan tanah tetap terjaga, serta menekan pertumbuhan gulma dan OPT seperti trips, ulat grayak atau ulat lalat buah yang biasanya berkembang di dalam tanah.

Pengolahan tanah

Saat olah tanah perlu ditambahkan pupuk dasar utamanya pupuk organik, lebih baik jika pakai pupuk terfermentasi. Lakukan pembajakan, penjemuran agar patogen di tanah mati. Lakukan penambahan dolomit agar pH optimal.

Pengaturan jadwal tanam

Berkaitan dengan ketersediaan air atau sumber air, curah hujan maupun serangan hama penyakit (menghindari puncak ledakan hama.

Pengaturan irigasi

Agar irigasi lebih efisien, bisa menggunakan teknologi irigasi tetes (drip tape irrigation), jika memungkinkan gunakan teknologi fertigasi (fertilizer irrigation), yakni pemupukan dan pengairan dilakukan secara bersamaan sehingga bermanfaat menghemat waktu dan biaya tenaga kerja.

Baca juga : Inilah Teknologi Irigasi Pintar (Smart Irrigation) Berbasis Sensor IoT Canggih Pada Greenhouse

 Pemupukan tepat berimbang

Maksutnya yaitu menggunakan pupuk sesuai dosis anjuran. Namun tetap memperhatikan fase pertumbuhan tanaman, artinya aplikasi pupuk tetap berdasarkan kebutuhan tanaman, dan tidak perlu berlebihan seperti yang biasa petani kita lakukan. Banyak pupuk, banyak panen. Bukan begitu.

Pengendalian hama penyakit

Pengendalian hama penyakit dilakukan saat telah mencapai ambang batas ekonomi dengan prinsip tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan lain-lain. Lebih bijak lagi dengan pencegahan, misal dengan menggunakan teknologi yellow trap, atau teknologi refugia (lain kali kita bahas ya).

Teknik atau cara panen

Teknik panen yang tepat bisa meminimalisir tingkat kehilangan panen. Contoh panen padi menggunakan sabit bisa menyebabkan gabah banyak yang hilang karena rontok. Solusinya pakai combine harvester, lebih presisi dan hemat.

Pada komoditas hortikultura, misal pada cabai, cara panen yang tepat bisa mencegah buah busuk. Gunakan wadah yang tepat, jangan pakai karung karena buah cabai bisa patah, memar, dan rusak sehingga menurunkan kualitas dan harga.

KESIMPULAN

Teknologi precision farming atau pertanian presisi, sangatlah penting diterapkan oleh petani agar tujuan akhir tercapai, secara biaya usahatani bisa efisien, secara produktivitas bisa maksimal, dan resiko gagal bisa diminimalisir.

Baca juga : Mengenal Teknologi-teknologi Canggih Di Era Pertanian 4.0

Selanjutnya petani juga perlu support dan dukungan pemerintah melalui kebijakan yang berpihak pada petani, seperti tata niaga yang adil, bantuan alsintan, permodalan, akses pasar, subsidi di input maupun output.

Dan yang terpenting juga adalah kebijakan impor komoditas pertanian, tolong dikurangi saat dalam negeri terjadi panen raya. Maka petani Indonesia akan sejahtera. Petani sejahtera, negara akan kuat dan Indonesia akan jadi lumbung pangan dunia….!

Semoga bukan sekedar mimpi…..!!!

Like and Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *