Yuk Mengenal Teknologi Pasca Panen Sayur Agar Kualitas Hasil Panen Tetap Terjaga

Yuk Mengenal Teknologi Pasca Panen Sayur Agar Kualitas Hasil Panen Tetap Terjaga – Bahan pangan yang merupakan hasil dari pertanian biasanya memiliki sifat yang mudah rusak dan busuk ketika tidak ditangani dengan baik.

Hal ini memang merupakan sifat dasar dari tanaman yang ketika sudah dipanen tidak akan tetap sama.

Sayuran menjadi salah satu jenis hasil pertanian yang perlu dilakukan penanganan terlebih dulu sebelum dikirimkan ke pasar.

Di negara berkembang sendiri khususnya Indonesia, sayuran menjadi busuk atau rusak sebelum digunakan karena kesalahan pasca panen.

Padahal sudah ada teknologi pasca panen yang bisa diterapkan agar sayuran bisa tahan lebih lama.

Hal ini penting untuk diterapkan agar hasil pertanian tidak mengalami susut akibat kerusakan pasca panen.

Faktor yang Mempengaruhi Pasca Panen Sayuran

Kerusakan pasca panen bisa terjadi akibat faktor biologis maupun faktor lingkungan yang menyebabkan kerusakan.

Hal ini bisa diatasi dengan menerapkan penanganan pasca panen yang baik (Good Handling Practices).

Ada dua faktor utama yang bisa mempengaruhi bagaimana pasca panen sayuran yakni faktor biologi dan faktor lingkungan.

Faktor biologi termasuk di dalamnya aktivitas respirasi, perubahan komposisi kimia, dan produksi etilen.

Sedangkan untuk faktor lingkungan sendiri di dalamnya mencakup atmosfer, suhu, dan kelembaban.

Susut yang terjadi pada produk sayuran yang sudah dipanen diantaranya disebabkan oleh turunnya kadar air.

Dalam penyimpanan dan pengangkutan, kerusakan mekanis juga seringkali terjadi akibat kesalahan.

Hasil panen yang disimpan sembarangan, juga berpotensi mengalami penguapan serta kontaminasi mikroba.

Tahapan Penanganan Pasca Panen

Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan pada saat menerapkan teknologi pasca panen pada sayuran.

Beberapa tahapan yang perlu dilakukan adalah untuk menghindarkan sayuran terhadap penurunan mutu yang bisa terjadi kapanpun.

1. Pemanenan

Langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah pastikan untuk berhati-hati dalam memanen, jangan sampai sayuran terjatuh, memar, ataupun tergores.

Dikarenakan hal tersebut bisa meningkatkan laju respirasi yang nantinya akan berakibat pada cepatnya sayuran mengalami pembusukan.

Menggunakan alat panen seperti gunting ataupun pisau yang tajam akan meminimalisir kerusakan yang mungkin saja terjadi.

kegiatan pemanenan

Selain itu wadah penampungan hasil panen juga perlu diperhatikan dan dibersihkan terlebih dulu.

Pemanenan sendiri mulai bisa dilakukan dengan menggunakan metode visual seperti memperhatikan warna buah.

Ada juga metode fisik dengan melihat bagaimana mudahnya sayuran buah lepas dari tangkai.

Dua metode tersebut menjadi metode penentuan pemanenan yang paling sering digunakan meskipun ada juga metode penghitungan, analisis kimia, dan fisiologis.

2. Pengumpulan

Setelah melakukan pemanenan, langkah selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah pengumpulan hasil panen.

Tempat penampungan sendiri haruslah cukup dekat dengan tempat pemanenan agar tidak terjadi kerusakan ketika pengangkutan.

Kegiatan pengumpulan hasil panen paprika

Dalam pengumpulan ini, tindakan penanganan yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing komoditas sayuran.

Wadah yang biasa digunakan seringkali berupa karung, peti, kardus atau keranjang yang telah dibersihkan.

Tempat pengumpulan sebisa mungkin terhindar dari cahaya matahari langsung untuk meminimalisir penguapan.

3. Sortasi

Langkah yang tidak boleh dilewatkan dalam teknologi pasca panen ini adalah sortasi sendiri.

Buah melon yang telah di sortasi

Sortasi bisa berdasarkan besar kecilnya komoditas, luka pada sayur, hingga cacat.

Ada banyak mesin sortasi yang bisa digunakan seperti misalnya NFM tomato yang dipakai untuk mensortasi tomat.

4. Pembersihan

Setelah sayuran lolos sortasi, maka dilakukan pembersihan agar terbebas dari kotoran yang masih menempel.

Pencucian bisa dilakukan dengan air bersih yang berfungsi juga sebagai pre-cooling untuk mendinginkan sayur setelah pemanenan.

Kegiatan pencucian/pembersihan wortel

Pembersihan ini dilakukan salah satunya juga agar nilai jual sayuran menjadi lebih tinggi karena tampilan yang lebih baik.

Ada beberapa sayur yang perlu dilakukan pengelapan pada bagian luarnya seperti misalnya pada tomat.

Beberapa juga perlu dilakukan perempelan agar umur simpan menjadi lebih lama misalnya pada tanaman kubis.

5. Grading (pengkelasan)

Sayuran yang dipanen tidak semuanya memiliki grade yang sama sehingga perlu dilakukan proses grading.

Grading pada wortel

Proses ini dilakukan untuk membedakan bagaimana segmentasi pasar juga misalnya untuk ekspor, mall atau pusat perbelanjaan, atau pasar tradisional.

Pengkelasan sendiri dibedakan berdasarkan warna, bentuk, besar, hingga beratnya sayuran yang dimiliki.

6. Pengemasan

Tujuan dari pengemasan sendiri adalah agar produk nantinya tidak mengalami kerusakan mekanis, menciptakan daya tarik, serta memperpanjang daya simpan.

Pengemasan pada tomat

Beberapa jenis kemasan yang sering digunakan ialah karton, jaring, kotak kayu, hingga ada juga sterofoam untuk penjualan di minimarket.

Kemasan sendiri dibedakan untuk transportasi, penyimpanan, dan penjajaan di rak-rak atau cabinet penjualan.

7. Penyimpanan

Komoditas sayur merupakan komoditas yang berumur pendek sehingga mudah rusak dan busuk.

Namun dengan teknik penyimpanan yang tepat umur atau daya simpan sayur dapat diperpanjang.

Teknik penyimpanan sayur agar kualitas atau mutunya tetap terjaga yaitu dengan cara menyimpannya pada kondisi lingkungan yang optimum yakni dalam kondisi ruang yang dingin dan lembab.

Pendinginan menjadi salah satu metode agar sayuran bisa tampak lebih segar karena pendinginan bisa mencegah penguapan.

Ada beberapa metode pendinginan seperti misalnya dengan air cooling, perendaman dengan air dingin hingga dengan kontak es.

Pada komoditas tertentu misalnya pada sawi, petani biasa menyimpannya di tempat yang teduh. Agar tidak cepat layu biasanya sesekali disemprot dengan air.

8. Transportasi (pengangkutan)

Tahap transportasi menjadi tahapan penting dalam pengiriman sebuah produk hasil pertanian karena biasanya lokasi lahan produksi sayur umumnya berada jauh di pedesaan atau pegunungan.

Oleh karena itu dibutuhkan alat pengangkutan yang bergerak cepat agar sayur tetap segar.

Jika alat transportasi yang digunakan tidak berpendingin, maka transportasi harus dilakukan pada malam hari.

Hasil panen sayur, selain untuk dikirim langsung ke pasar, namun ada juga yang dikirim ke agroindustri atau industri pengolahan.

Contohnya cabe, ada cabe yang dikirim ke pasar untuk konsumsi segar, ada juga yang dikirim ke pabrik pengolahan misalnya untuk bahan baku saos, sambal instan dan lain-lain.

Selain hasil panen jadi lebih awet, industri pengolahan juga dapat meningkatkan nilai tambah komdoitas pertanian.

Baca juga : Begini Cara Kerja Teknologi UHT Yang Bikin Susu Jadi Awet

Nah sobat teknologi.com, itulah ulasan tentang teknologi pasca panen agar kualitas hasil panen tetap terjaga, tetap segar hingga sampai pasar bahkan saat sampai di tangan konsumen akhir.

Intinya proses pasca panen harus diperhatikan agar kualitas dan mutu sayur tetap terjaga.

Mutu sayur yang terjaga sangat berpengaruh pada penentuan harga dan kepuasan konsumen.

Sayur yang bermutu baik akan meningkatkan daya saingnya di pasaran serta mencegah kerugian akibat sayuran yang tidak laku.

Kontributor : Ahlan Anwari (Mahasiswa Pertanian Universitas Jember/UNEJ)

Editor : TeknologiTani.com

Like and Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *